Tahap Tahap Perkembangan Agama
Apa saja sih tahap tahap perkembangan agama pada peserta didik?
Yuk simak penjelasan nya
Sebelum masuk dalam pembagian tahap tahap perkembangan agama, kita harus terlebih dahulu mengetahui definisi dari perkembangan agama
1. PENGERTIAN PERKEMBANGAN AGAMA
Menurut Raharjo (2012: 27- 28), perkembangan keagamaan pada anak adalah proses yang dilewati oleh seseorang untuk mengenal tuhannya. Sejak manusia dilahirkan dalam keadaan lemah fisik maupun psikis, walaupun dalam keadaan yang demikian ia telah memiliki kemampuan bawaan yang bersifat laten yakni fitrah keberagamaan.
2. TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN AGAMA
1. The Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng)
Konsep Tuhan pada anak usia 3–6 tahun banyak dipengaruhi oleh
fantasi dan emosi, sehingga dalam menanggapi agama anak masih
menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongeng-dongeng
yang kurang masuk akal. Anak mengungkapkan pandangan teologisnya dengan
pernyataan dan ungkapan tentang Tuhan lebih bernada individual,
emosional, dan spontan tapi penuh arti teologis.
2. The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan)
Pada tingkat ini pemikiran anak tentang Tuhan sebagai bapak
(pengganti orantua) beralih pada Tuhan sebagai pencipta. Hubungan
dengan Tuhan yang pada awalnya terbatas pada emosi berubah pada
hubungan dengan menggunakan pikiran atau logika.
Pada tahap ini teradapat satu hal yang perlu digarisbawahi bahwa
anak pada usia 7 (tujuh) tahun dipandang sebagai permulaan pertumbuhan
logis, sehingga wajarlah bila anak harus diberi pelajaran dan dibiasakan
melakukan shalat pada usia dini dan dipukul bila melanggarnya.
Dalam kehidupan manusia tahap perkembangan agama dapat
dibagi menjadi lima tahap, yaitu:
1. Tahap dalam kandungan
Untuk memahami perkembangan agama pada masa ini sangatlah
sulit, apalagi yang berhubungan dengan psikis ruhani. Meski demikian
perlu dicatat bahwa perkembangan agama bermula sejak Allah
meniupkan ruh pada bayi, tepatnya ketika terjadinya perjanjian
manusia atas tuhannya,
2. Tahap bayi
Pada fase kedua ini juga belum banyak diketahui perkembangan
agama pada seorang anak. Namun isyarat memberikan nama yang
baik bagi anak memberikan isyarat bahwa kebiasaan berbuat baik
telah dimulai pada masa bayi.
3. Tahap Anak-anak
Masa ketiga tersebut merupakan saat yang tepat untuk menanamkan
nilai keagamaan. Pada fase ini anak sudah mulai bergaul dengan
dunia luar. Banyak hal yang ia saksikan ketika berhubungan dengan
orang-orang orang disekelilingnya.
Anak pada usia kanak- kanak belum mempunyai pemahaman dalam
melaksanakan ajaran Islam, akan tetapi disinilah peran orang tua
dalam memperkenalkan dan membiasakan anak dalam melakukan
tindakan-tindakan agama sekalipun sifatnya hanya meniru.
Penelitian Masganti (1999) menunjukkan anak-anak Taman Kanakkanak Al-Qur’an menyakini Tuhan sebagai Zat Maha Pemberi,
Maha Penyayang, Tempat Meminta, dan Maha Pembalas terhadap
orang-orang yang berbuat jahat. Mereka menyatakan suka berdoa
kepada Allah di saat mereka senang atau sedih.
4. Tahap Remaja
Pada masa remaja sikap beragama bukan lagi sekedar peniruan
dan pembiasaan, tetapi agama mulai berkembang menjadi identitas
diri remaja. Remaja telah mulai mengambil sikap sadar terhadap
agamanya, sehingga pindah (konversi) agama dapat terjadi pada
masa remaja.
5. Tahap Dewasa
Pada masa dewasa agama telah menjadi kebutuhan. Orang-orang
dewasa telah memilih agama yang diyakininya. Orang-orang dewasa
memilih sikap taat dan tidak taat beragama secara mandiri. Mereka
melihat agama sebagai kebutuhan hidup sebagaimana kebutuhan
hidup lainnya.
C. SIFAT AGAMA PADA ANAK
Crapps dalam Hay (2006) menyatakan ciri-ciri pokok dan sifat
agama pada anak dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) pola orientasi:
a. Egocentric Orientation
Orientasi egosentris masa kanak-kanak digambarkan dalam
penelitian Piaget tentang bahasa anak usia 3-7 tahun. Menurut Piaget
bahasa anak tidak menyangkut orang lain, tetapi lebih merupakan
monolog dan monolog kolektif. Anak-anak selalu berbicara untuk
dirinya sendiri meskipun dia bersama orang lain. Misalnya ketika
anak-anak berdoa kepada Tuhan dia hanya berdoa untuk dirinya
dan keluarganya tidak untuk semua orang.
b. Anthropomorphic Concreteness
Pada tahap ini, kata-kata dan gambaran keagamaan diterjemahkan
dalam pengalaman-pengalaman yang sudah dijalani dalam bentuk
orang-orang yang sudah dikenalinya. Semua ajaran agama dibayangkan
sebagai manusia atau pengalaman yang telah dialaminya. Misalnya
Tuhan dibayangkan anak-anak sebagai manusia yang berbadan
besar yang kekuatannya melebihi manusia lainnya.
c. Experimentation, initiative, spontaneity
Usia 4-6 tahun merupakan tahun kritis di mana anak lebih mulai
ke luar rumah, mengambil inisiatif dan menampakkan diri di tempattempat permainan bersama teman sepermainan dan orang dewasa
lainnya. Anak-anak pada usia ini suka pergi ke mesjid mengikuti orang dewasa atau selalu mengikuti kegiatan keagamaan yang
dilakukan orang tuanya di luar rumah. Anak suka mencoba kegiatan
baru termasuk kegiatan-kegiatan keagamaan.
Komentar
Posting Komentar